May 14, 2008

Haruskah Ilmuwan Indonesia Sok Tahu Segala Hal?

Oleh: Al Jupri

Beberapa waktu yang lalu, ketika baru datang dari Belanda, saya ngobrol dengan seorang ilmuwan* yang juga merupakan guru, dosen, dan sekaligus pembimbing skripsi saya semasa belajar di Bandung dulu, sewaktu menempuh pendidikan sarjana. Dari sekian banyak yang dibicarakan, ada satu hal menarik yang kami obrolkan.

Ilmuwan: “Pri, gemana kuliahnya?”**

Saya: “Ya, gitu deh Pak! Saya sih di awal-awal perkuliahan cukup kerepotan dengan kuliah di sana, di Belanda. Banyak faktornya….”

Kemudian saya bercerita panjang lebar tentang suka dukanya kuliah di negeri mantan penjajah Indonesia, negeri Belanda itu. Bagaimana saya mengalami kesulitan, bagaimana saya berinteraksi dengan orang-orang di sana, dan beberapa hal aktivitas saya di negeri asing itu. Secara ringkas, padat, dan ga tahu jelas atau tidak, saya ceritakan pada beliau. Beliau, yang dosen saya itu, hanya aktif mendengarkan. Sekali-kali bertanya untuk memperjelas maksud dari apa-apa yang saya ceritakan. Sesekali juga melontarkan pertanyaan kritis yang bikin saya perlu berhati-hati dalam bicara.

Saya: Pak, saya mah kagum dengan para ilmuwan di sana.

Ilmuwan: “Maksudnya?”

Keep reading →

May 12, 2008

Dikira Chinese

Oleh: Al Jupri

“Mau cari apa De?” tanya seorang penjaga toko ke saya, saat masuk ke sebuah toko perlengkapan (dapur), di Bandung beberapa waktu yang lalu.

“Ini Pak, mau nyari water cooker dan rice cooker,” jawab saya.

Dengan segera, bapak penjaga toko itu mengambil beberapa contoh barang yang saya cari. Barang yang pertama dia ambil adalah water cooker.

“Ini harganya berapa, Pak?”

“Dua puluh sembilan ribu.” (Maksudnya dua puluh sembilan ribu rupiah)

“Dua puluhan aja ya, Pak?” (Maksudnya dua puluh ribu rupiah)

“Iya, itukan dua puluhan. Dua puluh sembilan ribu!”

Mendengar jawaban bapak penjaga toko itu saya tersentak, kaget! Betapa tidak, beliau dengan baik menggunakan pengetahuan dan kemampuan matematikanya. Ya, beliau dengan tepat mengerti bahwa harga dua puluh sembilan ribu (rupiah) itu termasuk nilai dua puluh (ribu)-an.

Dalam hati, saya sungguh malu! Saya malu karena keliru dalam berkata-kata. Saya malu kurang berhati-hati dalam menggunakan perkataan. Harusnya, ketika sang penjaga toko itu berkata “dua puluh sembilan ribu”, saya tawar harganya “sepuluh ribuan.” Namun, kata-kata yang sudah keluar tak bisa saya ralat, telanjur sudah didahului oleh si bapak penjaga toko tersebut. Saya hanya bisa tersenyum kecut!

Segera untuk menutupi rasa malu dalam hati, saya lanjutkan tawar-menawar harganya. Hingga terjadilah perbincangan menarik antara kami berdua.

Keep reading →

April 27, 2008

X, Y, dan Z

Oleh: Al Jupri

Dalam acara Empat Mata yang saya tonton, di salah satu situs yang katanya diblokir oleh pemerintah Indonesia, terjadi perbincangan menarik antara Tukul, sang pembawa acara, dan dokter Boyke, seorang pakar seks paling terkenal di negeri kita.

Tukul: “Posisi bercinta*  bisa menentukan jenis kelamin anak, ini bener apa ga dok?”

Boyke: “Salah! “

Tukul: “Loh..?”

Boyke: “Itu hanya mitos! Jadi…”

Tukul: “Jadi kalau salah satu, bener delapan lho dok!”

Hua ha ha ha ha… (penonton tertawa)

Boyke: “Iya… tapi ga beneeer! Namanya jenis kelamin anak itu, ditentukan oleh sperma yang membuahi…”

Tukul: “Oooo…”

Boyke: “Kalau spermanya eks (tulis: x), anaknya perempuan…. Kalau spermanya ey (tulis: y) anaknya laki-laki…. Gitu lho…! “

Ketika saya saksikan perbincangan di atas, awalnya saya senyum-senyum saja. Menarik! Selain mendapat informasi dari ahlinya, juga sekalian mengingat pelajaran Biologi sewaktu SMA dulu. Tapi, ketika dokter Boyke menyebut huruf “y” dengan sebutan “ey” saya sedikit tersentak! Heran!

Keep reading →

April 11, 2008

Persiapan Ujian Nasional: Kupas Tuntas ‘Bocoran’ Soal Matematika (Part 1)

Oleh: Al Jupri

Himpunan penyelesaian persamaan 5^{1+x} + 5^{1-x} = 26 adalah

a. \{ \frac{1}{5}, 5 \}

b. \{-5, \frac{1}{5} \}

c. \{ \frac{1}{2}, 1 \}

d. \{-1, 1\}

e. \{-1, 0 \}

Sebentar lagi siswa-siswi SMA di negeri kita akan menghadapai ujian nasional alias UN. Untuk itu tentu mereka perlu belajar dengan “keras” agar lulus. Ya, mereka perlu belajar “keras” memahami kembali segala materi yang sudah dipelajari sejak kelas X hingga kelas XII untuk menghadapi UN agar meraih kelulusan. Tetapi terkadang belajar “keras” tanpa dibarengi belajar dengan “cerdas” tidaklah cukup mengantarkan mereka menggapai target minimal kelulusan.

Keep reading →

April 4, 2008

Iya Bu Betul, Selalu Dua!

Oleh: Al Jupri

“Pak, apa sih menariknya belajar operasi bentuk-bentuk aljabar aljupri itu? Lalu buat apa?” tanya Tom pada gurunya, Pak Endar, pada saat jam istirahat sekolah. Waktu itu Tom baru kelas tiga SMP. Pak gurunya, ketika ditanya seperti itu tidak langsung menjawab. Sedikit berpikir sepertinya.

Pak Endar adalah guru yang dikenal dekat dengan siswa-siswinya. Tak heran bila siswanya tak segan untuk bertanya di luar jam pelajaran.

“Maksud kamu bagaimana Tom?” balik tanya Pak Endar.

“Begini Pak, nih tadi kan kita belajar tentang operasi bentuk-bentuk aljabar dan bapak ngasih soal begini!” kemudian Tom membuka buku catatannya. Di bukunya tampak soal matematika berikut ini:

x^3 + 2x + 1 - x^2 - 2x = ...

 y^2 + 2y + 1 - 3y +2 = ...

n^2 + 3n + 2 - n^2 - 3n =...

“Sebetulnya apa menariknya soal itu, Pak? Apa gunanya?” tanya lagi Tom. Keep reading →

March 24, 2008

Melawan Langkah Seribu

Oleh: Al Jupri

Mengambil langkah seribu bukan berarti melangkah seribu kali. Tetapi perkataan ini adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Indonesia yang berarti lari. Bila ungkapan ini dipakai dengan benar, tentu akan menambah indahnya suatu kalimat. Bila penggunaannya tepat, kita akan merasakan nuansa lain ketimbang bila kita menggunakan kata lari.

Namun demikian, terkadang, ada juga orang yang iseng kreatif dalam menggunakan memplesetkan ungkapan ini. Salah satu contohnya, dapat kita lihat pada interaksi antara seorang komentator blog, AgusBin, dan sang empunya blog, Yari NK, berikut ini*.

Keep reading →

March 23, 2008

Linguis Versus Matematikawan

Oleh: Al Jupri

Dalam suatu acara yang dihadiri para matematikawan Indonesia, tahun 2003 yang lalu, seorang ahli bahasa alias linguis mendapat kesempatan bicara di depan mereka. Ya, sang linguis* yang bertindak sebagai pejabat itu membuka acara penting bagi para matematikawan tersebut.

Saya yang kebetulan hadir waktu itu, bukan sebagai matematikawan tentunya, mendapat sebuah gurauan alias joke segar dari sang linguis tersebut. Joke yang hingga saat ini terngiang-ngiang dalam ingatan. Ah dasar tukang nginget-inget kejadian/cerita! :D

Keep reading →

March 23, 2008

Mengeksplorasi Teka-teki Angka

Oleh: Al Jupri

Perhatikan teka-teki angka yang pernah dimuat pada artikel yang lalu berikut ini:

Suatu bilangan terdiri dari empat angka. Angka pertama nilanya sama dengan angka kedua ditambah angka ketiga. Angka pertama juga sama nilainya dengan angka keempat ditambah satu. Begitupula angka kedua ternyata nilainya sama dengan angka ketiga ditambah satu. Bila angka keempat sama dengan dua kali angka ketiga, maka berapa bilangan (empat angka) tersebut?

Teka-teki semacam ini banyak kita temukan dalam buku-buku TTS* atau TTA (Teka-teki Angka) yang sering dijual di kios-kios koran di pinggir jalan. Biasanya para konsumen kedua jenis buku ini adalah mereka-mereka yang punya banyak waktu luang dan suka iseng mengisi waktunya. Ketimbang bengong tak bermanfaat, mending mengisi TTS atau TTA. Begitu barangkali alasannya. Betul ga?

Keep reading →

March 21, 2008

2 + 2 = 2 x 2 = 4

Oleh: Al Jupri

“Al, kalau kamu memang mahasiswa matematika sejati, kamu harus bisa jawab pertanyaan saya!”

Begitulah kata-kata tantangan yang terlontar dari salah seorang teman, yang sering membecandai dan menguji pengetahuan saya tentang matematika, sewaktu belajar di Bandung dulu.

“Apa?” tanya saya, penuh tanda tanya, dengan sedikit rasa khawatir.

Keep reading →

March 17, 2008

Rhoma Irama, Judi, Togel, dan Matematika

Oleh: Al Jupri

Judi (judi), menjanjikan kemenangan
Judi (judi), menjanjikan kekayaan
Bohong (bohong), kalaupun kau menang
Itu awal dari kekalahan
Bohong (bohong), kalaupun kau kaya
Itu awal dari kemiskinan

Judi (judi), meracuni kehidupan
Judi (judi), meracuni keimanan

Syair lagu diambil dari sini. Sedangkan gambar diambil dari sana.

Keep reading →

Next Page »